Di Pidato Kebudayan Husnizar Hood,”Banjir” Puisi

0
Husnizar Hood berfoto bersama pelajar peserta workshop

Selingga.com (08/01) Dabo.Mengambil judul ‘Membaca Fajar 2019’,Huznizar Hood menyampaikan pidato kebudayaan nya pada Sabtu (05/01) tadi di Gedung Nasional Dabo Singkep Kabupaten Lingga.Dalam pidatonya,Ketua Dewan Kesenian Provinsi Kepri ini,mengulas tentang peran kebudayaan sebelum tegaknya Negara Indonesia ini.

“Pidato kebudayaan ini biasanya adalah evaluasi apa yang telah dilaksanakan selama setahun,dan apa gunanya dirayakan setiap tahun.Kebudayaan sangat penting dalam kehidupan masyarakat.Coba bayangkan tahun 1945 itu,dari semenanjung Aceh hingga ke Papua,dengan transportasi yang terbatas,dengan komunikasi yang terbatas,tetapi kita sudah berani menyatakan diri.Karena faktor kebudayaan,”kata Husnizar Hood dalam pidato nya.

Ketua Dewan Kesenian Kepulauan Riau ini juga menambahkan,kalau Sumpah Pemuda merupakan sebuah karya sastra yang besar,sebelum berdirinya negara ini.

Husnizar Hood dan Ketua Sanggar Gema Cinta,Hamzah

“”Oleh karena itu Sutardji Calzoum Bachri menyatakan,menyebut Sumpah Pemuda itu adalah sebuah karya sastra yang besar.Dimana pada tanggal 28 Oktober 1928,sesungguhnya Indonesia belum ada,tetapi Sumpah Pemuda sudah dilahirkan,”papar pemilik buku puisi ‘Kalau-Tiga Racim Sajak (1996)’ ini dari atas podium.

Husnizar Hood juga menambahkan kalau saat ini,seniman tidaklah segemerlap jika dibandingkan dengan seni-seni yang lebih populer lainnya.

“Dari kebudayaan selalu digaung-gaungkan oleh banyak orang.Tapi terkadang sulit untuk dilaksanakan.Adapun pekerja budaya,para seniman,berada disuatu tempat yang sepi.Tidak segemerlap seni-seni populer yang ada dalam industri kesenian di Indonesia,”kata Husnizar Hood yang telah menelurkan karya baru nya berupa buku puisi “Aku Hanya Ingin Jadi Penyair Biasa” ini.

Malam pidato kebudayaan itu juga diisi dengan pembacaan puisi oleh 2 orang pelajar,hasil dari workshop penulisan puisi pada siang nya.Mereka adalah Dwi Intan Rahayu,pelajar dari SMA Negeri-2 Singkep dan Ashar,pelajar dari MAN Singkep.Sementara dari pihak guru,Sri Wahyuni dari SMA Negeri-2 Singkep dipilih untuk membacakan puisinya pada malam itu.Sebelumnya pihak Dewan Kesenian Provinsi Kepulauan Riau mengadakan workshop penulisan dan pembacaan puisi di Dabo Singkep.

Penyerahan sertifikat workshop penulisan puisi oleh Sekretaris DKPK,Heru Untung Leksono

Menggandeng Sanggar Gema Cinta Dabo Singkep,acara tersebut juga dilakukan peluncuran buku puisi “Aku Hanya Ingin Jadi Penyair Biasa” miliknya Husnizar Hood.

Ketua Sanggar Gema Cinta Dabo Singkep Hamzah,sekaligus selaku Ketua Panitia kegiatan,mengatakan dalam sambutannya saat itu,bahwa pihaknya hanya dapat membantu sejauh kemampuan yang ada untuk berlangsungnya acara tersebut.

Norman Sulaiman,Erizal Norman,Alang Dilaut
Pembacaan puisi dari guru SMA Negeri-2,Sri Wahyuni
Pembacaan puisi dari pelajar MAN Singkep,Azhar
Pembacaan puisi dari pelajar SMA Negeri-2 Singkep,Dwi Intan Rahayu

Setelah pembacaan puisi dari pihak pelajar dan guru,kegiatan malam itu juga diisi dengan pembacaan puisi dari para undangan dan juga dari pihak penyelenggara acara.(Im).

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan balasan