Hadirkan Presiden Sutardji,Wawan “ketuk” ingatan akan sejarah Kampung Cina

0
Wawan,Sutardji Calzoum Bachri dan Agus suandi

Selingga.com (06/12) Daik.Muncul nya Agus Suwandi dengan butiran syairnya dari sebelah kiri luar panggung pada Selasa Malam (04/12) tadi,menandai dibukanya pagelaran seni “Menyemai Rindu di Kampung Cina” yang berlangsung di antara reruntuhan sisa-sisa kebakaran hebat di pusat perdagangan bersejarah di Daik Lingga itu.

Sebelumnya kebakaran hebat yang terjadi pada Selasa (28/11/2017) silam di Kampung Cina Daik,telah menghanguskan puluhan ruko dan bangunan lain disekitar nya.

“Aku mengambil tema ‘Menyemai Rindu’ ini mengingat sudah berjalan setahun semenjak terkena musibah kebakaran lalu.Langsung terpikir untuk mengangkat budaya sejarah dengan kemasan pertunjukan budaya seni ini.Karena kaitan sejarahnya erat sekali.Ini kampung lama yang ada sejak zaman Sultan,dahulunya sudah ada.Umurnya pun diperkirakan sudah ada sekitar 294 tahun yang lalu.Sekitar 5 generasi lah.Disini terjadinya kesepakatan dalam bentuk berbaurnya Melayu,Cina,Bugis dan Keling.Jadi latar belakang dari sejarah ini lah,saya mengangkat tema ini.Latar belakang dari acara-acara ‘Menyemai Rindu’ ini adalah suatu bentuk kepedulian sebagai seniman Melayu.Itu dari sudut pandang seniman,kalau dari sudut pandang yang lain,no comment.”Kata Wawan kepada Selingga.com setelah berjalananya acara yang dihadiri oleh Gubernur Kepri Nurdin Basirun,Wakil Bupati Lingga M.Nizar,Kadisbud Lingga yang juga merupakan Ketua LAM Lingga M.Ishak dan para tokoh masyarakat.

Zuhendri Chaniago, Nondo Qyu dan Wawan

Biarpun dengan dana yang seadanya,Wawan yang merupakan seniman asal Daik Lingga ini bersama Nondo Qyu bahkan mampu menghadirkan Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri dan Penyair Juhendri Chaniago dari Medan demi mensukseskan acara tersebut.Ditambah juga dengan kehadiran Penyair dari Dabo Norman S Sulaiman dan Alang Dilaut.

Juhendri Chaniago yang tampil dengan dua puisi nya ‘Hu’ dan ‘Daun Jatuh di Pelupuk Mata’ seakan mampu melarutkan emosional masyarakat yang saat itu tenggelam dengan segudang memori yang melekat tentang keberadaan Kampung Cina itu.

Sebelumnya Norman dengan puisi ‘Menuai Rindu’ nya telah mampu menghipnotis ribuan pasang mata masyarakat yang menonton saat itu.

Pengisi acara pagelaran seni “Menyemai Rindu di Kampung Cina”

Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri pun,masih mampu ‘menyihir’ masyarakat yang ada dengan tampil membawakan puisi terbaiknya.Salah satu nya ‘Jembatan’,’Pemuda Mana Telor Mu’, dan satu puisi miliknya Chairil Anwar.Alang Dilaut pun mengambil waktu setelah Sutardji Calzoum Bachri dengan puisi ‘Ular’ nya dan puisi ‘Kucing’ nya Presiden Penyair Indonesia ini.

Dari musibah kebakaran yang melanda kampung bersejarah tersebut,membuat Wawan merasa terpanggil dan berharap generasi yang ada tidak larut dalam musibah tersebut.

“Selaku seniman daerah yang bergelut dengan musik Melayu,saya merasa terpanggil ketika tanah ulayat daerah yang diberi hak oleh Sultan terdahulu ini,mendapat musibah.Disini aku tertarik atau semacam spirit untuk generasi yang ada,agar tidak larut dan trauma atas musibah kebakaran itu.Mungkin ketika mengangkat Kampung Cina ini,ada kaitan emosional,psikologis dan segala macam rasa.Bukan hanya korban dari musibah ini saja,tetapi semua nya lah juga merasa.” Kata Wawan.

Zuhendri Chaniago

Jalan nya kegiatan seni budaya dengan tema ‘Menyemai Rindu di Kampung Cina’ itu juga diisi dengan dialog budaya.Dan ini merupakan sisi edukasi yang ingin didapati pihak Wawan dari pemahan sejarah yang ada.

“Saya selaku perancang acara ini,tertarik dengan sebuah nilai sejarah yang harus kita hargai.Intinya dalam dialog budaya ini,kami ingin mendapatkan sebuah edukasi tentang pemahaman sejarah.Sehingga pada generasi hari ini,tahu tentang Kampung Lama Daik ini.Apalagi kondisi sekarang di Daik ini sudah banyak para perantau dan pendatang.Ketika cerita ini tidak diangkat,kita mau bertanya kemana.Apalagi para sesepuh lama sudah banyak yang sudah meninggal.Mau bertanya ke bangunan,bangunan sudah terbakar.Mau bertanya ke pohon,pohon sudah habis dijual.Jadi ketika masih ada tokoh-tokoh kampung dan penggiat-penggiat sejarah dan kebudayaan,kita buat lah seperti ini.Timbul lah satu ide untuk membuat dialog.”Papar Wawan.

Norman S

Kadisbud Lingga Muhammad Ishak dalam sambutannya mengatakan kalau sebelumnya,Kampung Cina ini telah mengalami kebakaran sebanyak 5 kali.

“Kebakaran itu bukan baru ini saja terjadi.Dari sejarah yang ada,kebakaran di Kampung Cina ini terjadi sejak zaman Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah cucu dari Sultan Mahmud Riyatsyah,Pahlawan Nasional kita.Kampung Cina merupakan kampung tua.Dari buku sejarah yang ada,sejak Sultan Abdurrahman putra Sultan Mahmud Riyatsyah,Kampung Cina ini sudah ditulis.Oleh karena itu dari sejarah yang ada,kebakaran yang terjadi tahun 2017 merupakan kebakaran yang ke-5 kalinya.” Kata Muhammad Ishak.

Dan Muhammad Ishak menambahkan kalau kejadian yang ada,tidak membuat masyarakat putus asa untuk membangun kembali keberadaan Kampung Cina tersebut.

“Artinya masyarakat yang mengalami musibah,tidak pernah putus arang,tidak pernah putus asa.Apalagi kalau kita lihat dari sejarah pada zaman Sultan Sulaiman tepatnya pada tahun 1881.Tidak satu rumah pun yang tinggal pada saat terjadinya kebakaran saat itu.Kemudian tahun 1929,tahun 1972,tahun 1974 dan tahun 2017 yang meluluh lantakkan Kampung Cina ini.” Kata Muhammad Ishak.

Ketua LAM Lingga ini juga mengatakan kalau selain sebagai pusat perbelanjaan,Kampung Cina sebelumnya juga menjadi pusat kesenian.

Alang dilaut

“Kampung Cina tidak hanya sebagai Pusat Perbelanjaan.Dulu disini juga sebagai Pusat Kesenian.Saya ingat disini dulunya ada 4 bioskop,ada tempat bersandiwara,tempat Bangsawan.Dan itu merupakan suatu sejarah kebudayaan yang bisa menjadi saksi-saksi yang harus kita bangkitkan disini.” Papar Muhammad Ishak.

Muhammad Ishak juga menegaskan kalau Kampung Cina ini nantinya tidak menutup kemungkinan akan menjadi kawasan Cagar Budaya.

” Hanya Provinsi dan Kabupaten Lingga yang punya Dinas Kebudayaan.Kemudian hanya Provinsi Kepri dan Kabupaten Lingga yang punya Tim Ahli Cagar Budaya.Dan ini membolehkan bahwa kawasan Kampung Cina ini tidak tertutup kemungkinan sebagai kawasan Cagar Budaya.Apalagi negara kita sudah punya UU Cagar Budaya.Ini sangat memungkinkan kita untuk membangun kembali Kampung Cina.” Kata Muhammad Ishak dalam sambutannya saat itu.

Tokoh masyarakat Daik H.Muhammad Arsyad dalam kesempatan yang ada,mengatakan kalau sebelumnya Kampung Cina merupakan tujuan masyarakat sekitar Daik untuk berbelanja bahan-bahan kebutuhan lebaran.

” Kalau dulu,kalau kita mau Hari Raya,sebelumnya 2-3 hari masyarakat dari suak sungai semua datang ke Daik ini,ke Kampung Cina ini untuk berbelanja.” Kata H.Muhammad Arsyad yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Lurah disitu.(Im).

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan balasan