“Hujan Puisi” dari 3 Negara di Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2018

0
Ketua Panitia Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2018 Datok Rida K Liamsi

Selingga.com (29/11) Bintan.Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2018 ditandai dengan peluncuran buku Antologi Puisi Hang Tuah dan prosesi anugerah Jembia Emas di Kompleks Purna MTQ Bintan pada Kamis malam (29/11) tadi di Bintan.

Dihadapan para penyair yang hadir,Ketua Panitia Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2018 Datok Rida K Liamsi,berharap dengan adanya festival tersebut,dapat merawat ingatan akan sejarah yang ada.

“Kita berharap dengan adanya festival seperti ini,kita tetap mengingat dan menemukan bagaimana cara merawat ingatan,bagaimana kita mengenang,bagaimana kita tetap berhutang budi pada sejarah.Sehingga kita tetap dapat menghasilkan karya-karya sastra yang benar-benar memahami bagaimana posisi dan kedudukan kita dalam peta sejarah itu.”Kata Datok Rida K Liamsi dalam sambutannya saat itu.

Foto Bersama Peserta Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2018

Pemilik “Bulang Linggi” ini juga menjabarkan secara singkat,bagaimana pihaknya memakai tema Hang Tuah dalam pertemuan penyair serantau kali ini.

“Kebetulan saja kita menemukan jejak sejarah Hang Tuah.Dan itu lah yang kita pakai sebagai tema untuk pertemuan kali ini.Gagasan ini kemudian kita implementasikan kedalam bentuk sebuah rencana penerbitan syukuran puisi bersama penyair dalam kawasan Rantau Melayu ini.Dan tema Hang Tuah dalam puisi,sebagai tema yang kita pakai.” Jabar Datok Rida dari atas panggung Komplek Purna MTQ Bintan itu.

Mantan “Cek Gu” ini juga menambahkan,kalau awalnya mereka merasa sulit untuk menyelenggarakan agenda yang ada.Ini disadari karena sulitnya untuk mencari refrensi yang dapat dipakai dalam pembuatan puisi dengan tema Hang Tuah.

“Pada mulanya saya berpikir dengan Pak Huzrin Hood,untuk menyelenggarakan ini agak sulit buat mendapatkan puisi dari teman-teman penyair.Karena saya menyadari,tidak banyaknya referensi yang dapat dipakai oleh teman-teman dalam penulisan puisi dengan tema Hang Tuah.Apalagi tidak semua teman-teman pernah ke Gunung Bintan,ketempat-tempat yang punya jejak Hang Tuah.Tetapi setelah berjalan kurang lebih 1 bulan setelah diumumkan,ternyata responnya luar biasa.”Kata Datok Rida K Liamsi yang saat itu mengenakan pakai baju kurung Melayu dengan dasar berwarna merah.

Foto Bersama Peserta Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2018

Datok Rida K Liamsi juga menambahkan,kalau ada lebih kurang 1000 puisi yang masuk ke panitia dari 360 penyair dari seluruh Rantau ASEAN ini.

“Ada 360 penyair dari seluruh Rantau Asean ini yang mengirimkan puisinya.Dari usia 20 tahun-80 tahun.Jadi ini sebuah lintas generasi yang mencoba menafsirkan dengan cara mereka sendiri,tentang keberadaan Hang Tuah.Baik secara fakta,maupun secara mitos.Dari 360 penyair yang mengirimkan puisinya,ada sekitar 1000 puisi yang dikirimkan dalam masa sekitar 2 bulan itu.” Tambah Datok Rida K Liamsi.

Dari 1000 puisi yang masuk,Datok Rida K Liamsi ini mengaku kalau tim penyeleksi membutuhkan waktu sekitar 1 bulan untuk menyeleksi puisi-puisi yang masuk itu.

Ramon Damora (kiri)

“Tim kurator,tim penyeleksi puisi-puisi yang ditunjuk oleh Panitia yaitu Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri yang kami panggil sebagai “Presiden Penyair Indonesia”.Kemudian saudara Hasan Aspahani dan saya sendiri mewakili panitia untuk menyeleksi hampir 1000 puisi.Dan itu hampir 1 bulan lamanya.Akhirnya kita menemukan sekitar 300 puisi dari 131 orang penyair.”Kata pemilik puisi “Tempuling” ini dalam sambutannya saat itu.

Untuk buku Antologi yang diberi nama “Jazirah”,Rida K Liamasi menjelaskan,kalau nama yang diberi bermakna untuk menandai sebuah kawasan dimana dulunya Hang Tuah berkiprah.

“Malam ini kita melakukan peluncuran buku Antologi yang kami beri nama Jazirah.Itu untuk menandai sebuah kawasan dimana Hang Tuah dulu berkiprah dan membangun karirnya.Dan juga dimana Hang Tuah membangun nama besarnya serta meninggalkan sebuah motto,sebuah filosofi yang luar biasa.Yakni “Tak Kan Melayu Hilang Di Bumi”.Itu yang sekarang kita coba angkat dan kita kekalkan sebagai sebuah azas untuk kita mengingat tentang keberadaan orang-orang Melayu pada masa dahulu.”Ucap Pembina Yayasan Jembia Emas ini.

Aris Abeba (Panggung Tok Tan-Riau)

Untuk malam pertama ini,panitia menghadirkan penyair Muhammad Haji Saleh (Malaysia),Husnizar Hood (Tanjung Pinang),Ahmad Md Tahir (Singapura),Hasan Aspahani (Jakarya),Roslan Madun (Malaysia),Taufik Ikram Jamil (Riau),Ramon Damora (Batam),Penyair cilik Nabila Akhyar (Tanjung Pinang) untuk membacakan puisi pada malam pertama Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2018.Gubernur Kepri Nurdin Basirun pun menyempatkan diri dengan membacakan satu puisi.Selanjutnya kegiatan akan dilanjutkan esok hari nya (Jum’at 30/11) dalam bentuk seminar yang akan menghadirkan Maman S Mahayana dari Jakarta,Muhammad Haji Salleh dari Malaysia,Taufik Ikram Jamil dari Riau,Abdul Malik dari Kepri.Dihari kedua juga akan diisi dengan pembacaan puisi dari peserta Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2018.

Acara terus berlanjut pada Sabtu (01/12) dengan agenda Ziarah Budaya dengan pembacaan puisi dari penyair-penyair yang ada.(Im).

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan balasan