Untuk Puisi,DKKR ‘Terjun’ ke Lingga

0
Huznizar Hood memberikan bantuan buku puisi "Aku Hanya Ingin Jadi Penyair Biasa" secara simbolik terhadap sekolah-sekolah yang mengikuti jalannya workshop

Selingga.com (06/01) Dabo.Dengan menggandeng Sanggar Gema Cinta Dabo Singkep,Dewan Kesenian Kepulauan Riau (DKKR) melaksanakan workshop penulisan puisi untuk pelajar sekolah tingkat SLTA se-Dabo Singkep pada Sabtu (05/01) tadi.Kegiatan yang diadakan di Gedung Nasional Dabo itu,menghadirkan dua orang nara sumber dari pihak Dewan Kesenian Kepulauan Riau.

Erizal Norman yang duduk di Komite Theater dan Film di Dewan Kesenian Kepulauan Riau,mengisi sesi pertama dari workshop tersebut.Erizal Norman menegaskan kalau penulisan sebuah puisi tidak lah sulit.

Erizal Norman

“Menulis itu sangat mudah.Menulis itu sangat indah,asal ada rasa.Yang penting harus ada tema,mau dibawa kemana tulisan kita.Tulisan itu,kecil nya puisi,sedang nya cerpen dan kalau besarnya adalah novel,”kata Erizal Norman dihadapan para pelajar yang ada.

Laki-laki yang telah menulis sejak dari tahun 1984 ini,juga memotivasi para pelajar yang ada,untuk terus menulis dan jangan takut kalau hasilnya kurang bagus.

Heru Untung Laksono

“Asah kreatif,tinggikan kreatifitas.Jadi kalau ada yang menulis puisi,tetapi malu untuk menunjukkan puisi nya karena takut dibilang tidak bagus,tulis saja.In Sya Allah nanti lama-lama jadi bagus.Tulis saja,nekat saja menulis,”kata Erizal Norman.

Sedangkan Heru Untung Leksono selaku Sekretaris Dewan Kesenian Kepulauan Kepri,yang mendapat kesempatan pemaparan disesi kedua,lebih menekankan tentang kemudahan teknologi yang ada saat ini,untuk mendukung seseorang buat menelurkan sebuah karya seni nya.

workshop penulisan puisi untuk pelajar sekolah tingkat SLTA se-Dabo Singkep

“Dulu tidak ada teknologi lain.Menggali dari buku,mencari-cari.Koran yang dibuang,itu bukan sampah buat kami.Tapi itu sebuah ilmu.Dan hari ini merupakan phase teknologi yang sangat luar biasa.Cukup buka mbah google,semuanya ada.Dulu kami kesulitan.Kalian adalah generasi yang paling beruntung,”kata Heru Untung Laksono.

Sebelum workshop dilaksanakan,Ketua Dewan Kesenian Provinsi Kepri Huznizar Hood,dalam penyampaiannya mengatakan bahwa menjadi seorang penyair itu saat ini sangat menjanjikan.

“Menjadi penyair,tidak selamanya tidak menjanjikan.Dia sangat menjanjikan.Yang keduanya,menjadi penulis itu sangat mudah sebetulnya.Seni cuma ada lima.Yang pertama sastra,kedua musik,ketiga tari,yang keempat seni-rupa dan kelima theater/film.Diantara kelima cabang itu,biarpun sastra yang pertama,tetapi yang paling mudah,yang sedikit biaya,itu sastra,”kata Huznizar Hood.

Lelaki dengan perawakan agak besar ini juga nenegaskan,kalau seni merupakan suatu profesi yang menjanjikan.

“Dunia ini sangat menjanjikan.Dari 14 cabang ekonomi kreatif,separuhnya adalah cabang kesenian.Ekonomi kreatif itu menjanjikan,”kata pemilik buku puisi ‘Aku Hanya Ingin Jadi Penyair Biasa’ ini.

Penerima Anugerah Seni Sagang di Riau pada tahun 2004 itu menambahkan,kalau karya seni mempunyai umur yang lebih panjang dibandingkan dengan umur penulis nya.

workshop penulisan puisi untuk pelajar sekolah tingkat SLTA se-Dabo Singkep

“Ada motto atau slogan yang selalu saya pegang,yaitu ‘Seni Itu Panjang,Hidup Ini Pendek’.Karena kalau kalian ingin berkarya,yakinlah bahwa karya itu lebih panjang daripada usia kalian.Khairil Anwar itu hidupnya cuma 27 tahun.Dia meninggal pada tahun 1949.Tapi karya puisinya masih kita ingat,”papar penulis kolom Temberang disalah satu media cetak ini.

Jalannya pelatihan itu,para siswa dan guru yang ada,diberi waktu sekitar 20 menit untuk membuat puisi.Dari puisi yang ada,selain dibuatkan gami nya,guru dan pelajar yang terpilih,akan membawakan puisinya pada malam penutupan.Dalam kesempatan yang ada,pihak Dewan Kesenian Provinsi Kepri juga memberikan bantuan buku puisi “Aku Hanya Ingin Jadi Penyair Biasa” secara simbolik terhadap sekolah-sekolah yang mengikuti jalannya workshop,yang diserahkan langsung oleh Huznizar Hood.(Im).

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan balasan