Amuk Dang Jebat

Sastra198 Views
banner 468x60

Amuk Dang Jebat

———————

 

Siang itu sinar matahari dari atas air terjun Batu Ampar, Dabo Singkep masih menyisakan teriknya hingga menembus dasar kolam pemandian yang ada di sana. Hutan tropis yang berdiri kokoh di sekelilingnya seakan menjadi pagar alam yang diciptakan Tuhan untuk menjaga keberadaan salah satu objek wisata favorit di Kabupaten Lingga itu. Sementara itu suara gemuruh air terjun bagaikan irama sumbang pengiring waktu yang terus berjalan. Tidak jauh dari sana terlihat dua sosok setengah berlari dari arah Selatan menuju ke lokasi air terjun. Satu orang dengan tanjak hitam, berpostur tinggi dengan raut muka laksana pendekar, serta seorang lagi dengan perawakan sedang berbaju kurung Melayu keseharian. Mereka adalah Dang Jebat dan Wan Indan.

 

Keringat terlihat membasahi tubuh keduanya. Dang Jebat dari raut wajahnya terlihat jelas kalau ada kemarahan di sana. Kelelahan juga tergambar dan melekat pada dua orang itu. Dang Jebat, lelaki dengan tanjak panglima itu menoleh sesaat ke Wan Indan yang berjarak hanya selangkah orang dewasa dari posisinya berdiri.

 

“Hai Wan Indan, awak tu yakin tak kalau tempat cerok-merok ini adalah tempat terakhir terlihatnye keberadaan Dang Tuah,” tanya Dang Jebat.

 

“Aok, saye yakin, Bang, saye tengok dengan mate kepala saye sendiri kalau saat itu Dang Tuah dan Datok Sultan berdiri di sini. Tapi saye tak tahu ape saje yang orang berdue tu bicarekan,” jawab Wan Indan.

 

“Kau denga ye Wan Indan, kalaulah benar hilangnye saudare aku Dang Tuah itu ade kena-mengena dengan Datok Sultan, make aku pastikan kalau aku mesti menuntut balas. Denga tak awak tu, hai Wan Indan. Ini sudah ngelancot betul, kalau dapat orangnye nak aku kantet-kantetkan. Paling tidak aku buat besembe mukanye,” kata Dang Tuah yang kali ini matanya menatap lekat ke arah kawan seperjalanannya hari itu.

 

Sambil menggenggam tangan kanannya dengan ibu jari di posisi menunjuk dan sedikit membetulkan letak kerah baju kurungnya, Wan Indan berkata dengan suara rendah.

 

“Aok, saye rase seperti itulah hendaknye, Bang, menuntut balas adalah hak kite dan meski kite lakukan,” jawab Wan Indan dengan nada berbau provokasi dan masih menatap lurus ke arah Dang Jebat.

 

Sesaat Dang Jebat bangkit perlahan dari posisinya berjongkok dan berjalan pelan menyusuri genangan air terjun Batu Ampar yang sudah menjadi kolam itu.

 

“Ketike langit tidak lagi bertongkat pade marwah, maka di situlah bumi akan tumpah. Aku Dang Jebat tidak akan tinggal diam. Biarpun harus binase badan karena sengketa, namun marwah tetaplah dijunjung dan dijage,” kata Dang Jebat dengan nada sedikit meninggi.

 

Kemudian pandangannya kembali melirik ke arah Wan Indan.

 

“Hai Wan Indan, apekah kabar dari awak ni dapat aku jadikan pegangan. Bisa aku jadikan dasar pijakan, bisa aku jadikan sebagai tapak awal langkah ini agar dapat jugelah aku melangkah dan menyarungkannye pada kemarahan ini?” Kata Dang Jebat yang kali ini suaranya terdengar semakin meninggi.

 

“Aok, Bang, saye telahpun mendengar kabar yang mengabarkan kalau Tuan Dang Tuah telah hilang bersamaan dengan tidak terlihatnye lagi Datok Sultan beserta keluargenye,” jawab Wan Indan dengan nada pelan namun masih terdengar jelas di telinga Dang Jebat.

 

Sejurus suasana berubah hening. Dang Jebat terlihat berjalan dengan perlahan menuju salah satu gazebo yang ada di objek wisata andalan Kota Dabo itu. Sementara itu air terjun Batu Ampar dengan ketinggian puluhan meter masih saja menghempaskan airnya dan suaranya bagaikan sejuta ton batu yang dicampakkan dari atas langit.

 

Mereka berdua kemudian meninggalkan air terjun Batu Ampar, lokasi terakhir yang bisa mereka ketahui jejak keberadaan Dang Tuah sebelum kabar menghilangnya selama sepekan ini. Keberadaan Dang Tuah masih menguap bagaikan ditelan bumi.

 

——————————————

 

Hujan rintik-rintik mulai membasahi jalanan Kota Dabo dan sekitarnya. Kota pesisir yang tidak hanya terkenal dengan keindahan alamnya, juga kaya akan sumber mineral di dalamnya.

 

 

Siang itu di sudut ruangan salah satu kedai kopi di seputaran taman kota, terlihat sosok Dang Jebat sedang menenguk kopi hitamnya. Di sebelahnya Wan Indah masih menemaninya dengan sesekali mengembuskan asap rokok kretek miliknya. Di meja mereka hanya ada kopi hitam saja.

 

“Sudah beberape hari, tak juge ada kabar Dang Tuah yang dapat didengar. Kau, Wan Indan, tolong tanyakan lagi pade sanak saudare kite yang berade di pulau-pulau. Kalau ade informasi, segerelah berkabar,” kata Dang Jebat sambil menatap Wan Indan.

 

“Aok, semalam sudah disampaikan juga kepade sanak saudare yang ade di Pulau Mepar dan sekitar Daik sane hingge Senayang. Mungkin setidaknya petang luse saye akan menanyekannye kembali, Bang,” jawab Wan Indan.

 

Sementara itu, salah seorang warga yang duduk di salah satu meja di ruangan kedai kopi tersebut ikut menimpali perbincangan terkait hilangnya Dang Tuah saat ini.

 

“Kami juga ikut bertanye pade sanak keluarge yang ade, namun belum terdengar apa-apa perihal Dang Tuah. Tetapi sebelum berite hilangnya Dang Tuah, perangai Datok Sultan tak lah seperti biasenye,” kata salah seorang warga.

 

“Aok, saye nengoklah Datok Sultan seminggu terakhir ni. Kalau bejalan macam orang tesampok je, tak seperti biasenye. Kalau betembong dengan kite di jalan, mane ndak lagi die nego kite. Biasenye kan die suke belite juge orangnye,” balas seorang lelaki renta menimpali hal tersebut.

 

“Betol tu, hari lalu, Wak, kawan ke rumah pak Hitam Suden yang sebelahan same rumah die, macam tak nak lalu nengok muke kite ni. Nyawan, nyalah na, macam tak seperti biasenye,” jawab teman semejanya.

 

“Jangan-jangan hilangnye Dang Tuah ade kene-mengene dengan die tu,” sambung seseorang dari meja lainnya.

 

Sementara itu di jalanan sekitar kedai kopi, tampak para petugas kesehatan dari Puskesmas sibuk melakukan fogging, menyemprot parit-parit yang airnya sering tergenang meski tidak banjir dan hujan. Apalagi saat ini kasus DBD mulai naik di Pulau Singkep itu.

 

——————————–

 

Di sebuah rumah yang terlihat sederhana, tepatnya tidak jauh dari lingkungan Masjid Az-Zulfa, masjid terbesar yang ada di Kota Dabo dan juga menjadi saksi bisu tentang majunya kota itu di masa zaman timah dahulunya, terlihat Encik Idris yang merupakan salah seorang tokoh masyarakat dan juga seorang guru ngaji di Dabo Singkep sedang menutup jendela rumahnya. Sebentar lagi Magrib. Sesekali matanya menatap ke arah meja kecil di samping kursi tamunya. Di sana sebuah ponsel jadul miliknya terlihat dalam keadaan sedang dicas dayanya. Wajah teduh ini kemudian menatap pintu rumah, berjalan ke sana dan menutupnya rapat-rapat. Tidak lama kemudian suara azan berkumandang dari pengeras suara yang berada di menara Masjid Az-Zulfa.

 

Sejauh ini cerita tentang hilangnya Dang Tuah secara diam-diam telah menyebar di tengah-tengah masyarakat. Informasi ini juga yang membuat Dang Jebat, saudara sebelah ibu Dang Tuah datang ke Dabo dari tempatnya di Pulau Suak Buaya yang berbatasan langsung dengan wilayah Inderagiri Hilir, Riau. Di Kota Dabo inilah Dang Jebat menemui Wan Indan, orang yang sebelumnya telah memberikan kabar berita tentang hilangnya Dang Tuah melalui telepon selular. Jejak terakhir Dang Tuah yang dapat diketahui sebelum berita kehilangannya berada di daerah air terjun Batu Ampar. Ini juga menjadi titik awal pencarian Dang Jebat terhadap saudaranya itu. Sejauh ini belum ada yang melaporkan berita kehilangan Dang Tuah ke pihak berwajib. Bersamaan hilangnya Dang Tuah, orang satu-satunya yang terlihat sedang berkomunikasi dengan Dang Tuah sebelum hilang hingga saat itu adalah Datok Sultan. Tidak heran kemudian orang-orang memvonis penyebab hilangnya Dang Tuah adalah ulah dari Datok Sultan. Apalagi Datok Sultan bersama istri dan kedua anak-anaknya yang masih kecil saat ini tidak terlihat lagi di rumahnya dan di sekitar Kota Dabo.

 

Sebelumnya, sebagian besar masyarakat Dabo cukup mengenal Datok Sultan. Selain dikenal memiliki kebun getah yang luas, Datok Sultan juga membuka tambang timah rakyat di tanah kebun miliknya.

 

Secara ekonomi, Datok Sultan adalah salah seorang yang tergolong sangat mapan untuk ukuran Kota Dabo ini. Dari informasi keluarga terdekatnya, mereka hanya tahu kalau Datok Sultan tiba-tiba berangkat ke luar daerah tanpa ada penjelasan apa-apa kepada mereka. Telepon selular miliknya ketika dihubungi tidak diangkat dan sekarang sudah tidak dapat dihubungi lagi. Segala macam teori dan spekulasi beredar di tengah-tengah masyarakat. Apalagi dari cerita terakhir yang terdengar, Dang Tuah mempunyai hutang kepada Datok Sultan.

 

——————————–

 

Encik Idris mematikan ponselnya setelah berbincang dengan seseorang di dalam teleponnya. Seperti biasa dia menggelar sajadah untuk bersiap melaksanakan salat Magrib di rumahnya. Sudah beberapa waktu ini ia tidak berjamaah di masjid. Kesehatannya yang menurun akhir-akhir ini, membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu salatnya di rumah. Apalagi sudah 3 tahun sejak kepergian istrinya, ia mengerjakan semua kebutuhannya sendiri.

 

Suara ketukan pintu terdengar keras dan berulang-ulang. Encik Idris yang baru saja menyelesaikan salat Magribnya, menatap sesaat ke arah ruang tamu, arah sumber suara ketokan pintu saat itu.

 

“Assalamualaikum, Pak Guru,” terdengar suara salam dari luar rumah sederhana itu bersamaan dengan bunyi ketukan pintu.

 

“Aok, waalaikumsalam. Sebenta ye,” jawab Encik Idris sambil bangkit dari sajadahnya dan pergi membukakan pintu rumahnya.

 

Di depan rumah miliknya itu, Encik Idris melihat sosok Long Majid tegak berdiri dengan kondisi sedikit terengah-engah. Long Majid adalah saudara jauh Encik Idris yang sering mengunjungi rumahnya meski hanya sekadar bersembang saja.

 

“Pak Guru, Pak Guru harus ikut saye segere,” seru Long Majid dengan napas yang sayup-sayup masih terdengar saat itu.

 

“Ape halnye Majid. Kenape awak macam teselit je di sudut teras tu. Cobelah awak masuk dulu, kite bebual di dalam seperti biasenye,” kata Encik Idris.

 

“Maaf Pak Guru, ini bukan masenye kite bebual, orang-orang dengan kemarahan sudah menuju ke rumah Datok Sultan. Terlambat sedikit saje, saye takutnye ade hal-hal yang tak elok akan berlaku di sane,” jawab Long Majid.

 

Mendengar nama Datok Sultan disebutkan, Encik Idris seketika dapat memahami seperti apa situasi yang ada saat itu.

 

Sambil merapikan kainnya, Encik Idris yang sempat meraih ponselnye di ruang tamu segera menarik tangan Long Majid dan berdua mereka meninggalkan kediamannya dan menuju ke arah rumah Datok Sultan.

 

————————————–

 

Saat itu di perkarangan rumah Datok Sultan, puluhan orang terlihat berdesakan di depan pintu rumahnya. Suara-suara terdengar riuh dan nyaring disertai ada juga beberapa nada kemarahan yang dilontarkan. Dang Jebat sendiri terlihat berada di barisan depan bersama Wan Indan. Muka Dang Jebat terlihat merah padam dan gerahamnya nampak mengeras, dapat dipastikan kalau kemarahannya sudah memuncak pada malam itu.

 

“Datok Sultan, keluarlah. Jangan berdiam diri saje di dalam tu. Ape perlu aku masuk pakse ke dalam rumah ni hah. Aku bungkas pintu ni nanti,” pekik Dang Jebat.

 

Seruan dari Dang Jebat saat itu disambut dengan teriakan dari beberapa orang di belakangnya. Suasana terasa agak kisruh. Sosok Datuk Sultan sampai saat ini belum juga terlihat dari dalam rumah. Suara riuh dan kedatangan puluhan orang membuatnya tidak berani ambil risiko untuk membukakan pintu. Meski sempat terjadi dialog singkat sebelumnya melalui dinding rumahnya, namun puluhan orang yang datang dengan membawa kemarahan saat ini, membuat ia memutuskan berdiam diri bersama anak-istrinya di dalam rumah. Seorang tetangga Datok Sultan terlihat mencoba memberikan informasi terkait kericuhan saat itu ke pihak keamanan karena melihat orang-orang yang datang dengan wajah penuh kemarahan.

 

Datok Sultan yang awalnya bertahan di dalam rumah, akhirnya memberanikan diri untuk pelan-pelan membuka kunci pintu depan rumahnya. Suara gerakan kunci dibuka itu membuat suara-suara yang tadinya terdengar penuh kemarahan agak sedikit mereda digantikan dengan tatapan tajam puluhan mata ke arah pintu rumah tersebut.

 

Pintu dibuka pelan-pelan bersamaan dengan munculnya sosok Datok Sultan yang gemetaran dan wajahnya yang memucat.

 

“A, a, ade ape saudare semuanye. Ke, kenape …?” Tanya Datok Sultan yang tidak sempat menyelesaikan pertanyaannya karena lehernya langsung ditarik dengan keras dan memaksa tubuhnya keluar dari dalam rumah oleh Dang Jebat.

 

“Keluar, cepat keluar!” Kata Dang Jebat sambil tangannya beralih dari leher ke kerah baju Datok Sultan.

 

“Mane saudare saye, Dang Tuah? Aku sudah bekelinta mencarinye,” ujar Dang Jebat.

 

“Ape, ape maksudnye?” tanya Datok Sultan.

 

Jawaban Datok Sultan yang tidak langsung menjawab keberadaan Dang Tuah membuat Dang Jebat menjadi murka, amarahnya bagaikan setinggi gunung. Ia segera menarik tubuh Datok Sultan keluar dari dalam rumah ke teras. Sebuah pukulan terlihat akan dilakukan Dang Jebat kepada Datok Sultan. Namun sebelum keadaan semakin memburuk, terlihat sosok Encik Idris berlari terengah-engah menuju ke tempat Dang Jebat dan Datok Sultan berdiri sambil tangan kanannya mengacung-ngacungkan ponselnya.

 

“Tunggu, tahan, tahan Dang Jebat. Hentikan ini, jangan kau umbar marahmu pada yang bukan tempatnye,” teriak Encik Idris yang saat itu sudah berada di depan Dang Jebat.

 

“Maaf Pak Guru, saye harus tuntaskan masalah ini,” kata Dang Jebat.

 

“Justru saye mau menjelaskan apa yang menjadi pertanyaan kita semua saat ini. Ini, ini …. lihat ini, ini suara Dang Tuah. Saye sudah dapat menghubunginya malam ini,” kata Encik Idris sambil tetap berusaha menahan berat tubuh Dang Jebat agar tidak terus mengintimidasi Datok Sultan.

 

Kemudian dengan cepat Encik Idris membuka speaker ponselnya dan mengangkat ke atas agar semua yang ada saat itu dapat mendengarnya.

 

“Halo, Dang Tuah,” kata Encik Idris masih dengan nada tinggi untuk meyakinkan kalau suaranya didengar semua yang ada di sana.

 

Sejurus terdengar suara yang sangat familiar bagi sebagian orang di sana.

 

“Ye, assalamualaikum, Pak Guru,” jawab Dang Tuah dari dalam ponsel milik Encik Idris.

 

Mendengar suara milik Dang Tuah, halaman rumah yang tadinya penuh dengan aroma kemarahan dan provokasi, mendadak hening seketika, tidak terkecuali Dang Jebat yang menjadi tertegun. Tangannya yang sebelumnya sempat mengeluarkan urat dan otot itu kini seperti lunglai tak bertenaga. Dengan tatapan penuh kebingungan serta raut muka yang terkejut, tatapan mata Dang Jebat kini berfokus pada ponsel yang dipegang erat-erat oleh Encik Idris. Namun, seketika itu juga Encik Idris menatap Dang Jebat dan tangannya menyodorkan ponsel itu kepada Dang Jebat.

 

“Dang Jebat, bicaralah dengan saudaremu Dang Tuah, biar jelas semuanya,” kata Encik Idris.

 

Dengan tangan sedikit gemetar, Dang Jebat mendekatkan ponsel tersebut ke mukanya.

 

“Engkaukah itu, Dang Tuah?” Tanya Dang Jebat langsung.

 

Suara dari dalam ponsel tersebut menjawab.

 

“Ye, ini aku, aku, Dang Tuah saudaremu. Simpan amarahmu, Dang Jebat. Pak Guru sudah bercerite. Ini bukan seperti ape yang awak dan masyarakat yakini. Segera minta maaflah kepada Datok Sultan dan keluargenye. Hilangnye keberadaanku hanyelah terkait pekerjaan saje. Saat ini aku berade di Gunung Muncung, di lokasi kebun Datok Sultan. Aku bekerja mendulang timah di sane. Ponselku memang tidak aktif. Karena kerja yang mengharuskan aku berendam di kolong, tidak memungkinkan aku untuk memegang ponsel,” papar Dang Tuah dengan intonasi datar dan jelas.

 

Mendengar penuturan saudaranya melalui ponsel itu, Dang Jebat segera menatap lembut ke arah Datok Sultan. Ia segera menunduk dan menjatuhkan badannya ke lantai.

 

“Datok Sultan, dengan segale kesalahan dan atas perbuatan saye ini, saye meminta maaf dengan setulusnye. Saye ikhlas kalaupun harus menanggung akibat dari perbuatan saye. Tanpa mencari tahu lebih dalam lagi, saye membawa murka ke rumah Datok Sultan,” kata Dang Jebat.

 

Warga yang berada di lokasi rumah Datok Sultan saat itu juga saling menyampaikan permohonan maaf kepada pemilik rumah.

 

“Ye, saye memaafkan semuenye. Jujur saje, sedari awal tadi, saye benar-benar tidak memahami kenape saudara-saudara saye dengan penuh amarah datang ke rumah saye,” ujar Datok Sultan.

 

“Namun mendengar perbualan antara Dang Tuah dan Dang Jebat tadi, saye bise tahu dan juge memakluminye. Ini mungkin juge terkait dengan keberadaan kami sekeluarga yang beberape mase ni tidaklah berade di tempat. Namun untuk saudare-saudare saye ketahui semuenye, saye pergi membawa keluarge saye keluar kote untuk berobat. Anak bungsu kami sebelumnya kena sakit malaria. Dengan keadaan panik, setelah dapat rujukan berobat keluar, saye segera membawa keluarge semue ke sane. Sangking cemas dengan keadaan anak saye, mase berangkat tu, ponsel saye tertinggal di rumah,” papar Datok Sultan menjelaskan panjang lebar apa yang dialaminya saat itu.

 

Warga yang mendengarkan cerita dari Datok Sultan semakin hening dan timbul penyesalan.

 

“Sudahlah, semuanye sekarang sudah jelas. Memang beberapa hari ini, saye berusaha untuk menghubungi ponsel Dang Tuah. Barulah sebelum Magrib tadi dapat tersambung dengan Dang Tuah. Itupun dikarenakan Dang Tuah baru membuka ponselnya untuk menelepon rekannya agar membantu membelikan stok makanan buat mereka kerja di sana. Satu hal lagi yang mesti kite ingat bersame. Kekerasan bukan alat penyelesaian masalah,” kata Encik Idris.

 

Kenyataan ini jugalah yang membuat semua yang ada di sana akhirnya sangat memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam beberapa hari ini. Setelah saling memaafkan, warga dan juga Dang Jebat beserta Encik Idris akhirnya meninggalkan hunian keluarga Datok Sultan.

 

Penulis : Alang Dilaut, Dabo, 15 Mei 2026

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *