Atan Enal Tiba-Tiba Bicara Puisi dan Kata-Kata

banner 468x60

“Cobalah segelas kopi ini. Ada pekat, pekik dan pekak didalamnya,” kata Atan Enal saat menjamu ku di sebuah warung pojok di kota kami, Dabo Singkep.

“Ah, bahasa mu saat ini terdengar agak puitis namun terasa terdengar sedikit membingungkan,” kata ku.

“Itu hanya penilaian sesaat dari mu saja,” kata Atan Enal.

“Apakah ini dikarenakan sebentar lagi akan ada perhelatan parade baca puisi “Bersimpuh di Bunda Tanah Melayu” yang digagas oleh kawan mu dan juga kawan ku Bang Husnizar dari Perhimpunan Penulis Kepri dan di dukung oleh Kecamatan Lingga itu ?,” tanya ku.

“Entahlah, setidaknya saat ini aku sudah mulai tahu meskipun kata-kata bukanlah sejarah itu sendiri, namun kata-kata adalah alat perekam sebuah sejarah hingga kata-kata juga ikut membangun sebuah peradaban umat manusia ini,” jawab Atan Enal yang membuat ku seakan tidak percaya kalau kalimat itu muncul dan diucapkan dari bibirnya.

“Wah, wah, aku mulai menyukai bahasa mu saat ini, Tan. Tetapi bukankah mata pedang dan senapan juga telah banyak membuka sebuah peradaban dan menciptakan atau bahkan merubah sebuah sejarah,” tanya ku.

“Aku tidak menafikan itu. Namun pedang dan senapan hanya untuk meruntuhkan peradaban demi sebuah ambisi dalam membangun sebuah peradaban baru versi mereka. Selebihnya merupakan bagian dari sebuah pertahanan diri dan marwah untuk menjaga negeri,” kata Atan Enal tanpa menjelaskan siapa yang dimaksud “mereka” itu.

“Ah, sudahlah. Aku tidak begitu tertarik untuk membicarakan kisah sejarah, karena aku bukan bagian dari pemenangnya,” jawab ku.

“Kamu tak bisa berbicara begitu, karena jasad mu yang masih bernafas ini masih berpijak di bumi yang mana didalamnya kaya akan sejarah dan budayanya,” sahut Atan Enal.

Baca juga :   Menakar Esensi dan Substansi Ormas di Era Demokrasi

Sampai di sini, aku kembali dibuat keheranan tingkat tinggi dengan gaya bahasa yang diucapkan oleh Atan Enal hari itu.

“Apakah kau juga akan ikut dalam pembacaan puisi nantinya,” tanya ku berharap agar pembicaraan terkait sejarah tadi segera bergeser kepada topik yang lebih ringan dan tidak terjebak dalam nama, waktu dan tempat.

“Ha ha ha, aku bukan penyair, tetapi aku menyukai kata-kata dari penyair yang banyak berdiri di rel yang lurus dan tidak bengkok-bengkok,” kata Atan Enal.

“Waduh, sepertinya hari ini aku menemukan sisi lain dari diri mu Tan,” kata ku semakin heran dengan bahasa-bahasa yang diucapkan oleh Atan Enal hari itu.

“Dari kata-kata kita juga telah belajar banyak tentang sejarah masa lalu dan tentunya dengan kata-kata juga nantinya kita akan menulis sejarah tentang masa mendatang,” kata Atan Enal.

Aku diam sejenak, dari pembahasan terkait pagelaran baca puisi, kata-kata, sejarah, peradaban hingga mata pedang ini, aku masih belum begitu sempurna untuk mencerna kemana nantinya muara perbincangan kami di hadapan 2 gelas kopi hitam saat itu.

“Ya, aku meyakini kalau kata-kata bisa menjadi sesuatu yang mengubah suatu keadaan layaknya seperti teks proklamsi yang dibacakan oleh Soekarno dan menjadi penggerak revolusi saat itu. Kata-kata juga menjadi pengikat sebuah perjanjian besar hingga ia juga menjadi hukum, norma dan sejenis lainnya,” papar ku agar tidak terlihat hanya menjadi pendengar pasif di perbincangan kami saat itu.

“Dalam membangun peradaban, aku meyakin kalau kata-kata juga sebagai media untuk menularkan ilmu dan pengalaman sebelumnya kepada generasi muda saat ini. Lebih mudahnya adalah pengarsipan dan transper pengetahuan,” kata Atan Enal.

Baca juga :   PRO KONTRA TERHADAP KEHALALAN VAKSIN

“Wah, ini agak berat Tan. Aku harus semakin berpikir keras untuk mencerna setiap kata yang kau ucapkan kepada ku. Kembali lagi ke parade pembacaan puisi tadi, apa hubungan puisi itu dalam upaya membangun peradaban manusia,” tanya ku. Kali ini betul-betul didasari oleh rasa keingintahuan ku.

“Justru kata-kata yang digunakan dalam sastra, puisi dan mungkin juga pada narasi sejarah, setidaknya itu merupakan bentuk lain dalam mengungkapkan, menunjukan gagasan, maksud dari sebuah nilai moral, keindahan, identitas dari sebuah negeri, atau juga untuk menghimpun beragam individu menjadi satu ikatan kebudayaan. Singkatnya, ya untuk membangun sebuah empati lah,” papar Atan Enal.

“Tan, aku rasa perbincangan ini sudah saatnya kita sudahi. Karena jujur saja, kita berdua ini masih terlalu awam terhadap apa-apa yang kita bincangkan tadi. Biarlah para ahli dan pakar di luar sana yang berkomentar dan memaparkannya,” kata ku yang mulai ada rasa takut dengan bahasa-bahasa yang dikeluarkan oleh Atan Enal hari itu. Bahasa yang sangat-sangat tidak aku pahami kenapa bisa keluar dari mulutnya. Biasanya kami hanya membahas kisah-kisah seputaran jemuran tetangga hingga kalau yang agak tingginya terkait dengan efesiensi negeri, itu pun masih memakai versi kami. Namun aku menyadari kalau kata-kata tidak hanya akan berhenti pada alat rekam sejarah saja, namun juga dilahirkan untuk merancang wajah masa depan. Tentu didalamnya harus didukung juga oleh tradisi literasi dan komunikasi yang kuat.

Mungkin kalau ada yang bilang sejarah adalah alur cerita dari sebuah peradaban manusia, maka tinta yang digunakan untuk menulisnya adalah kata-kata.

 

Alang Dilaut, masyarakat Dabo yang suka puisi tetapi bukan penyair.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rekomendasi Berita untuk Anda :