DBD Peningkatan Kasus, Malaria Menurun, Dinkes Lingga akan Bentuk Kader Jumantik

Andi Sasmita, S.KM

Selingga.com (07/01) Dabo. Saat ini penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Kabupaten Lingga mengalami peningkatan kasus dari sebelumnya. Sementara itu, untuk penyakit malaria mengalami angka penurunan kasus. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit, Dinas Kesehatan P2KB, Kabupaten Lingga, Fazinawati, AMd. Keb melalui Staf Bidang P2P pengelola Program P2B2 Andi Sasmita, S.KM, saat ditemui di ruang kerjanya, pada Kamis (07/01) tadi di Dabo.

“Kalau untuk penyakit malaria maupun DBD, kalau malaria sudah mulai hilang atau sudah mulai turun. Tahun 2020 tadi malaria cuma ada 4 kasus. Kalau DBD memang mengalami peningkatan. Di tahun 2020 ada 57 kasus dalam setahunnya. Itu peningkatannya di wilayah Dabo Singkep, Lingga Timur dan di Daik serta di Resang,” kata Andi Sasmita.

Andi Sasmita mengatakan kalau pihaknya memfokuskan buat penanggulangan DBD pada tahun ini.

“Fokus kita untuk tahun 2021 ini lebih ke penanggulangan DBD. Untuk DBD ini kita fokuskan pemberantasan sarang nyamuk yang melibatkan lintas sektor. Kemudian juga ada pemberantasan jentik. Untuk malaria target kita adalah eliminasi 2025. Mudah-mudahan bisa terealisasi,” kata Andi Sasmita.

Selain DBD, Andi Sasmita menambahkan kalau mereka juga akan melaksanakan program kecacingan, dengan menargetkan anak-anak prasekolah sampai anak usia sekolahan.

“Disamping DBD dan malaria adalagi satu program kecacingan. Program kecacingan ini kita laksanakan 2 kali dalam setahunnya pada bulan Februari dan Agustus. Targetnya anak umur 2-14 tahun. Artinya dari anak prasekolah sampai anak usia sekolah. Alhamdulillah pada tahun 2020 lalu pencapaian kita sudah 100 persen pada bulan Februari maupun bulan Agustus 2020. Ini akan berjalan selama 2 tahun lagi. Mudah-mudahan hasil kita tetap 100 persen lagi. Jadi di tahun 2025 kita sudah bisa eleminasi kecacingan,” terang Andi Sasmita.

Disamping itu, pemberantasan penyakit kaki gajah atau filariasis yang sudah berjalan dan juga sudah memasuki evaluasi tahap kedua saat ini juga menjadi program untuk mendapatkan sertifikat eleminasi nantinya.

“Adalagi yang sudah lama berjalan pemberantasan penyakit menular yaitu kaki gajah. Ini sudah memasuki survey evaluasi. Tahun ini kita masuk survey evaluasi tahap kedua. Kemungkinan akan kita laksanakan di bulan Maret atau April nanti. Targetnya sama, di tahun 2025 kita sudah harus mendapatkan setifikat eleminasi. Jadi target kita nanti di tahun 2025 nanti mendapatkan 3 sertifikat eleminasi, yaitu malaria, kecacingan dan filariasis (kaki gajah),” terang Andi Sasmita.

Andi Sasmita juga mengatakan kalau pemberantasan sarang nyamuk merupakan solusi untuk penyakit yang ada tersebut.

“Untuk DBD, malaria dan filariasis penyebabnya adalah nyamuk. Kendala kita dilapangan saat ini hanya terkait dengan pemahaman kepada masyarakat. Bagaimana cara kita merobah pola pikir masyarakat. Selama ini begitu ada kenaikan kasus, masyarakat selalu minta fogging. Sebenarnya fogging itu bukan solusi. Solusinya adalah pemberantasan sarang nyamuk dan menggerakan gotong-royong membersihkan lingkungan,” kata Andi Sasmita.

Terakhir, Andi Sasmita menambahkan kalau pihaknya akan membentuk Kader Jumantik (Juru Pemantau Jentik) di setiap desa yang ada.

“Nanti kita akan bentuk Kader Jumantik. Tahun ini akan kita laksanakan. Jadi setiap desa harus punya Kader Jumantik. Kita juga menghimbau masyarakat untuk selalu melksanakan 3 M, yaitu Menguras, Mengubur dan Menutup,” kata Andi Sasmita. (Im).

Read Previous

Terkait Vaksin Covid-19, Dinkes Lingga Siapkan 1028 Nakes untuk Vaksin Awal

Read Next

Kecamatan Kepulauan Posek Tempati Gedung Perkantoran Baru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *