Anak-Anak Muslim Suku Laut Pulau Lipan Masih Kekurangan Buku Agama

Lingga140 Views
banner 468x60

Selingga.com (10/02) Selayar. Komunitas Adat Terpencil (KAT) yang berada di Pulau Lipan, Desa Penuba, Kecamatan Selayar, Kabupaten Lingga saat ini mayoritas warganya memeluk agama Islam. Dalam perkembangan pembelajaran terhadap agama Islam di pulau yang berada di seberang Desa Penuba tersebut, sudah ada penyuluh agama untuk membina Komunitas Adat Terpencil itu sejak tahun 2000 lalu. Ibrahim Yunus selaku penyuluh agama serta pembina dari Komunitas Masyarakat Adat Terpencil (KAT) saat ditemui pada Selasa (08/02) tadi di kediamannya di Desa Penuba, Kecamatan Selayar ini mengatakan kalau dirinya rutin memberikan pelajaran tentang nilai Islam sebanyak 2 kali dalam seminggunya.

“Saya melakukan pembinaan terhadap Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Pulau Lipan ini seminggunya 2 kali pada malam Sabtu dan malam Selasa. Kegiatan keagamaan Islam dengan pelajaran tentang nilai-nilai Islam, terutama tentang akidah, akhlak, kisah Nabi, dan juga tentunya berkaitan dengan rukun Islam, inilah hal yang saya bina pada mereka, anak-anak yang memang belum mengenal Islam karena mereka dari sekolah kurang mendapatkan pendidikan tentang agama Islam, maka Pemerintah Kabupaten Lingga mengutus saya selaku pembina masyarakat adat terpencil ini yang kalau di Kesra itu adalah Penyuluh Agama Islam Daerah Terpencil,” kata Ibrahim Yunus.

Disinggung kendala yang ada selama memberikan pembinaan agama Islam bagi warga muslim Suku Laut di Pulau Lipan tersebut, Ibrahim Yunus mengatakan kalau pihaknya saat ini membutuhkan buku-buku untuk menunjang selama melakukan pembinaan di sana.

Anak-Anak Muslim Suku Laut Pulau Lipan Masih Kekurangan Buku Agama

“Terkait kendala, kalau untuk saya pribadi tidak ada. Hanya tinggal lagi kekurangan-kekurangan kami yang mungkin pernah kami sampaikan ke pihak Kesra sebelumnya bahwa secara metodenya tentunya kami butuh buku-buku yang perlu jadi acuan kami karena tidak cukup hanya dengan ilmu pengetahuan yang kami miliki saja. Kami juga butuh yang secara tertulis,” kata Ibrahim Yunus.

Baca juga :   Dapat Penghargaan SPM, Lingga Dijadikan Percontohan BPJS Neyanan

Dengan adanya buku-buku tersebut, Ibrahim Yunus menambahkan kalau anak-anak Suku Laut di Pulau Lipan tersebut dapat belajar dengan membawa buku dan lebih memahami lagi isi pelajaran tersebut.

“Saya sudah sampaikan itu, alhamdulillah pihak Kesra sudah menanggapinya. Kami juga telah menyiapkan anak-anak ini supaya datang belajar dengan membawa buku. Sehingga mereka juga dapat belajar tentang huruf hiijaiyah yang harus mereka kenal,” terang Ibrahim Yunus.

Ibrahim Yunus berharap ke depannya anak-anak muslim dari Suku Laut yang ada di Pulau Lipan itu dapat memiliki ilmu yang sederajat dengan anak-anak lainnya.

“Harapan saya, anak-anak ini semoga nantinya bisa menjadi anak-anak yang sederajat ilmu pengetahuannya dengan kita. Itu sebenarnya yang saya inginkan karena itu juga merupakan tujuan awal saya untuk membina masyarakat dalam komunitas ini. Kemudian alhamdulillah saya juga difasilitasi oleh pemerintah, baik pemerintahan desa, kecamatan maupun kabupaten,” kata Ibrahim Yunus.

Anak-Anak Muslim Suku Laut Pulau Lipan Masih Kekurangan Buku Agama

Ibrahim Yunus sendiri telah mengabdikan dirinya sebagai tenaga penyuluh agama Islam di Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Pulau Lipan tersebut hampir 20 tahun lamanya. Selain anak-anak, pembelajaran juga diikuti oleh orang tua mereka. Rata-rata anak-anak Suku Laut yang aktif mengikuti pembelajaran yang diberikan oleh Ibrahim Yunus berjumlah belasan orang karena banyak juga anak-anak yang ikut melaut bersama orang tuanya. (Im).

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *