Melalui Novel Sejarah “Lanun Alang Tiga” Miliknya, Ada Misi Besar dari Rida K Liamsi

Lingga419 Views
banner 468x60

Selingga.com (23/05) Daik. Setelah menunggu beberapa waktu sejak diterbitkannya novel “Hamidah,” akhirnya Datuk Seri Lela Budaya, Dato’ Rida K Liamsi kembali menyelesaikan sebuah novel sejarahnya yang berjudul “Lanun Alang Tiga.” Novel sejarah ini diluncurkan pada

22 Mei 2023 di Gedung Lembaga Adat Melayu Kabupaten Lingga di Daik, Kabupaten Lingga.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Lingga melalui Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga selaku penerbit novel sejarah tersebut.
Novel sejarah ini merupakan novel sejarah ke empat buah karya Dato’ Rida K Liamsi. Sebelumnya ada novel sejarah “Bulang Cahaya, Megat, dan Hamidah.”

“Terima kasih kepada Pemkab Lingga, terutama kepada Bupati Lingga, Muhammad Nizar yang telah berkenan menerbitkan buku novel saya yang ke empat ini, “Lanun Alang Tiga” dan mudah-mudahan buku ini berguna, terutama bagi kalangan muda,” kata Rida K Liamsi.

Melalui Novel Sejarah “Lanun Alang Tiga” Miliknya, Ada Misi Besar dari Rida K Liamsi

Budayawan Rida K Liamsi mengatakan kalau ada misi besar yang diusung dengan dituliskannya buku novel sejarah “Lanun Alang Tiga” tersebut.

“Misi besar yang saya usung dengan novel ini adalah bagaimana meluruskan pemahaman sejarah bahwa lanun ataupun bajak laut di bumi Melayu ini bukan penjahat, bukan suatu kejahatan, itu bahagian dari perlawanan orang-orang Melayu terhadap kaum penjajahan. Perlawanan melalui lanun atau bajak laut inilah bentuk perlawanan yang bisa membangun bentuk solidaritas Melayu dengan sesama Melayu di kawasan rantau Melayu ini. Melayu Mindanao, Melayu Pattani, Melayu Johor, Melayu Trengganu, Melayu Kepulauan Riau, dan Melayu Melaka bergabung satu menjadi kekuatan bersama untuk menghadapi penjajahan Belanda, Inggris, Spanyol dan Portugis. Itu misi besar tentang pemahaman sejarah orang-orang Melayu di kawasan ini,” papar Rida K Liamsi.

Ditanyakan harapan ke depannya, Rida K Liamsi berharap akan banyak lagi tulisan-tulisan yang terkait dengan sejarah-sejarah lokal.

Baca juga :   Kepala BPJS TK Tanjungpinang Temui Bupati Lingga
Datuk Seri Lela Budaya, Rida K Liamsi

“Ya, haruslah, banyak-banyak lagi tulisan buku sejarah lokal. Banyak hal penting, terutama Kabupaten Lingga ini. Lingga ini, kan Bunda Tanah Melayu, banyak menyimpan catatan sejarah, riwayat-riwayat sejarah tentang masa lalu. Seperti bagaimana Penuba dulunya pernah sebagai pusat perlawanan terhadap Belanda dan banyak hal lainnya, seperti Pancur, Resun, serta lainnya,” kata Rida K Liamsi.

Disinggung kendala, Rida K Liamsi mengaku kalau hal tersebut terkait dengan beberapa bahan untuk penulisan yang belum didapatkannya.

“Tidak ada kendala, kendalanya, kan pada riset, bahan-bahannya yang tidak ditemukan sekarang. Misalnya buku penting. Buku itu buku tandingan sebenarnya. Dalam konteks kesejarahan, buku ini tandingan dari “Tuhfat al-Nafis.” Namanya “Keringkasan Sejarah Melayu, Tarikh, dan Silsilah” yang ditulis oleh Tengku Muhammad Saleh. Itu dianggap salah satu buku penting versi lain dari orang Melayu terhadap lanun. Katakanlah itu kritik terhadap Bugis-Bugis yang ada di Kerajaan Riau-Lingga pada masa itu. Itu buku tandingan. Sayangnya buku itu belum ditemukan jejaknya di mana dan belum diaksarakan. Itu sangat penting karena itu adalah referensi, tetapi itu dikutip oleh beberapa peneliti,” papar Rida K Liamsi.

Terkait hal tersebut, Rida K Liamsi juga meminta kepedulian pihak-pihak terkait terhadap dunia literasi.

Melalui Novel Sejarah “Lanun Alang Tiga” Miliknya, Ada Misi Besar dari Rida K Liamsi

“Harus ada ikhtiar mengalihaksarakan buku para pengarang. Buku-buku itu ada 5 atau 6, baru satu “Nur as-Shalah,” itu nama buku yang sudah dialihaksarakan dan buku-buku lainnya juga belum. Padahal buku-buku lain juga penting, misalnya buku “Tajwid Alfatiha,” buku “Hukum Adat,” dan lain sebagainya. Itu semua diperlukan kepedulian dunia literasi, terutama Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga,” kata Dato’ Rida K Liamsi.

Novel sejarah “Lanun Alang Tiga,” sebuah novel sejarah tentang jejak-jejak perjalanan suku Iranun, bangsa Lanun yang dimulai dari abad ke-15 melalui catatan perjalanan seorang wartawan surat kabar Suara Borneo, Kinabalu, Sabah, Malaysia, bernama Encik Nadin. Novel sejarah ini menceritakan bagaimana perjuangan Sultan Yahya untuk merebut kembali Kerajaan Siak dari Sayid Ali, cucu Raja Alam yang dibantu oleh Belanda.

Baca juga :   Wahid Boyong Perindo ke Ikhsan Fansuri-Isnin

Perebutan kekuasaan antarsaudara. Sultan Yahya hingga harus menyingkir ke Daik, sebuah pulau yang berada di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Selain itu, juga menceritakan kisah percintaan Tok Lukus, sang Raja Lanun dengan putri Tengku Yahya (Sultan Yahya), Tengku Maimunah.

Kisah percintaan Tok Lukus dan Tengku Maimunah ternyata juga dialami oleh sang wartawan saat penjelajahannya untuk mencari jejak-jejak suku Iranun. Nadin terjebak perasaan pada gadis keturunan Iranun.

Novel sejarah “Lanun Alang Tiga,” mengambil nama Alang Tiga, yaitu sebuah pulau yang berada di Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, Pulau Alang Tiga. Pulau pusat kediaman sang Raja Lanun, Tok Lukus atau Raja Tembing. Lanun yang diartikan sebagai perompak, bajak laut, baik yang tujuannya untuk membangun persaudaraan, solidaritas sesama kerajaan maupun karena ekonomi. (Im).

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *