Ku Tikam Kau,Jarbah… !!!

Badik tua itu masih juga terbungkus kain kuning dengan rapi nya.Aku tahu,belum pernah sekali pun bapak mengantikan kain kuning yang sedikit dimakan usia itu semenjak aku dilahirkan hingga usia remaja saat ini.Tak banyak yang kutahu tentang senjata tajam berbahan kan besi tua itu.Dari mamak,aku hanya tahu,kalau senjata tajam itu telah ada semenjak dari datuk ku Alang Dilaut.Belum pernah jua mata ini memandang langsung bentuk nyata tampa bungkusan kain kuning yang melekat di badan senjata tua itu.Belum pernah.Hanya gagang nya saja yang luput dari balutan kain kuning.Gagang nya aku tahu.Ya,gagang yang sedilkit melengkung itu,aku yakini terbuat dari bahan kayu pilihan.
Kini sudah hampir tiga jum’at,bapak tidak mengasapi lagi badik nya.Entah lah kenapa.Rentang waktu segitu juga diikuti perubahan dratis dari sikap bapak.Lelaki kokoh itu kini banyak mengabiskan waktu luang nya dengan berdiam diri.Mamak pun seakan mengerti dengan tiada mempertanyakan perubahan dari sikap bapak.Aku pun ikut-ikutan diam tampa bertanya kenapa bapak berubah,pendiam.
Waktu pun telah berlalu kala tanah perkuburan yang masih menyisakan taburan bunga dipusaranya kutinggalkan dengan langkah kaku,menjauh dari sepasang nisan bapak.Ya,bapak meninggal.Ini sudah masuk hari kedelapan ketika bapak di temukan bersimbah darah di pojokan pasar kelontong Dabo Singkep dengan belasan luka tikaman benda tajam di sekujur tubuh nya.
Hari Rabu itu,menurut cerita mamak, bapak bergegas pulang kerumah dengan raut muka menahan kemarahan.Dan satu-satu nya tempat yang langsung dituju bapak adalah tempat penyimpanan badik dilemari pakaian tua dirumah sederhana kami.Mamak pun segera menyusul bapak kedalam.Namun,masih menurut cerita mamak,belum sempat mamak menghampiri bapak,lelaki kokoh itu langsung bersuara tinggi dan menghentikan langkah kaki mamak saat itu juga.
” Diam lah disitu Maruni,aku akan tetap menuntaskan janji ku pada anak kita Terek.!Dia akan tetap sebagai anak di rumah ini…!!”Kata bapak.
Mamak diam.Dan masih tetap diam takkala bapak menyelitkan badik kepinggang nya dan bergegas melangkah ke luar rumah.
Hanya itu yang mamak tahu dari kejadian naas pada hari terbunuh nya bapak.Aku pun di hari yang sama mendadak dijemput adik mamak ke kelas ku di SD Pelita Timah.Kulihat adik mamak di dampingi ibu kepala sekolah,dan berbisik sesaat dengan guru yang mengajar di kelas saat itu dan aku pun pulang kerumah bersama adik mamak.Di usia 11 tahun ini,sudah cukup buat aku mengerti apa yang telah berlaku.Ditambah isak tangis mamak ketika aku telah sampai dirumah dan berada di samping jenazah bapak.
Kini badik itu telah aku pegang,tampa berbungkus kain kuning lagi.Namun kini warna asli nya pun seakan hilang dengan genangan darah Jarbah.Ya,darah Jarbah.Jarbah….!!!Darah dari lelaki penguasa Dabo.Darah dari lelaki yang telah membunuh bapak.Darah dari lelaki yang telah memperkosa mamak hingga melahirkan aku,darah dari seorang laknat,bajingan,setan,iblis……!!!
( Alang Dilaut,Dabo 01/08/2016 pukul 22.06 wib )

Read Previous

"Bapak Menteri" Mau Kunjungi "Bunda Tanah Melayu",Bunda Tanah Melayu Pun Besiap-Siap Sambut Bapak Menteri

Read Next

Sebanyak 108 Haji Cilik,Penuhi Halaman SDIT Insan Cendikia Dabo Singkep

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *