KOPI PAGI HARI : “KITA ADALAH APA YANG KITA PIKIRKAN”

0
Ilustrasi

Selingga.com (08/9). Hari ini 8 september 2016 untuk pertama kalinya penulis terpikir untuk membuat tulisan ini saat mencoba merasakan kopi pagi pertama di Daik, Lingga.

Sehari sebelumnya kunjungan Menteri Pertanian RI,Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP ke Kabupaten Lingga seakan membunyikan genderang perang untuk membangun kembali semangat masyarakat yang telah lama terkubur oleh surutnya APBD yang menghantam berbagai kabupaten lainnya di seluruh Indonesia termasuk Kabupaten Lingga salah satunya.

5000 Ha lahan pertanian adalah sebuah oase ditengah padang pasir ekonomi yang semakin memburuk, perjuangan Panglima Perang yang baru mengambil alih kerajaan yang tengah terpuruk mulai menunjukan secercah harapan baru, Ya harapan itu berupa lumbung padi dari negeri kepulauan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Apalagi daerah yang akan dikerjakan adalah daerah dengan kultur masyarakat yang sudah biasa bercocok tanam menambah keyakinan kami para optimizer bahwa proyek ini akan memberi perubahan yang luar biasa besar. Hanya saja sebaliknya ternyata masih banyak para pesimizer yang merasa kurang puas dengan gebrakan ini, tapi biarkan saja mereka, toh mereka juga tidak menyadari bahwa sesuatu yang baru dimulai tidak harus langsung membuahkan hasil, hal ini disebabkan pola pikir mereka yang cenderung mendapatkan segala sesuatu dengan mudah sejak dahulu. Mereka terlalu dimanja dengan kemudahan dari pemerintah sebelumnya segala buaian seremonial dan longsoran APBD serta bantuan sosial membuat mata mereka tertutup dari semangat kerja dulu hasil kemudian. Mereka terbiasa dengan turun ke laut dapat ikan lalu jual, mereka terbiasa dengan potong karet lalu jual, mereka terbiasa dengan ambil timah lalu jual, mereka terbiasa dengan proposal lalu uang, tapi tahukah mereka apa yang akan terjadi ketika pola ini semakin terbiasa maka pola pikir mereka juga akan menjadi terbiasa untuk selalu meminta dan meminta, mendapatkan sesuatu secara instan tanpa harus bekerja keras. Ketika hasil laut terjual ke luar siapa yang untung? mereka iya tapi adakah keuntungan untuk daerah kita ketika nos kering kita dari senayang menjadi oleh-oleh khas Tanjung Pinang/Batam, ketika mereka terbiasa menjual karet mentah ke Jambi siapakah yang untung? Mereka iya tapi adakah keuntungan untuk daerah kita ketika Jambi mengolah hasilnya menjadi bahan setengah jadi dan menjadikan karet sebagai pemasukan bagi daerah mereka, ketika mereka terbiasa menjual Timah ke luar siapakah yang untung? Mereka Ya sekali lagi mereka tetap untung , tetapi adakah keuntungan daerah ketika Singapore menjadikan timah dari Singkep sebagai barang ekspor mereka?. Bagaimana kalo kita tiba-tiba menyadari bahwa ribuan ton ikan dan olahan hasil laut kita setiap tahunnya ternyata menjadi PAD yang luar biasa bagi kabupaten Lingga, atau ratusan ton karet kita setiap tahunnya bisa menjadi pemasukan yang besar bagi kabupaten kita, atau bahkan 400-500 ton timah kita setiap tahunnya bisa menjadikan daerah kita menjadi kabupaten yang mandiri. Dan ini berulang setiap tahunnya, berulang kembali, terus dan terus sampai kita sadari bahwa yang tersisa bagi daerah kita Cuma ampas.

Semuanya bermula dari apa yang kita pikirkan, ketika Amerika belum besar seperti sekarang, salah seorang pemimpin negara itu berkata Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu dan sekarang mereka menguasai dunia. Jadi ketika sekarang kita sedang berjuang untuk mencatatkan beras sebagai salah satu produk lokal kabupaten kita mari berpikir positif dan percaya sajalah kita pasti bisa, karena kita adalah apa yang kita pikirkan. Apa yang bisa kita berikan untuk tanah kelahiran kita.

Mari berpegangan tangan saling mendukung dan berjuang bersama, toh jalannya sudah terbuka, sedikit memang tapi ketika masyarakat dan pemerintah bersikap professional dan berniat baik yang sama pasti ada perubahan. Hari ini pertanian, besok pasti menyusul yang lainnya asalkan kita terus yakin hari esok kabupaten ini akan lebih baik. Jangan khawatir dengan kebobrokan sistem pemerintahan yang sudah lama berlangsung, akan ada generasi baru dalam pemerintahan yang siap untuk membangun bersama walaupun tadinya saya merasa miris karena banyak dari mereka bukan putera daerah Lingga tapi ternyata mereka tidak datang tanpa apa-apa, mereka datang dengan semangat juang yang sama dengan kita para optimizer yang masih yakin dengan harapan daerah kita ke depan.

Daik, Lingga 8 September 2016
Wassalam

Bayu Pratama

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.