Warga Pulau Geranting Keluhkan Air Tidak Jalan

0
Ilustrasi air kran (foto : istimewa)

Selingga.com (26/11) Batam. Sejauh ini, ketersediaan air bersih masih menjadi kendala bagi masyarakat yang berada di pulau-pulau sekitar Kelurahan Pulau Terong, Kecamatan Belakang Padang, Batam, Kepri. Terutama di Pulau Geranting, Kelurahan Pulau Terong. Selama ini masyarakat Pulau Geranting masih bergantung dengan sumber air bersih yang berada di pulau-pulau sekitarnya. Sebutlah Pulau Tumbar dan Teluk Kangkung, yang menjadi tempat masyarakat mengambil air bersih untuk keperluan sehari-hari.

Beberapa waktu lalu, masyarakat Pulau Geranting terbantu dengan adanya bak tampung yang berada diseberang pulau tersebut. Namun bak tampung yang sempat menjadi sumber air bagi masyarakat Pulau Geranting itu, dari pengakuan salah satu warganya, Junaidi, sudah tidak mengalir lagi airnya.

“Kalau tidak salah, baknya sekitar 20×20 meter. Memang waktu dibangun, mata air tidak banyak, adalah dari samping. Mata airnya tidak jalan (keluar-red), jadi mengharapkan air hujan saja. Kalau ada hujan 4 – 5 hari, barulah kita dapat air. Kalau tidak ada hujan, tidak dapat airlah kami.”kata Junaidi melalui telepon selular kepada Selingga.com, pada Minggu (17/11) lalu.

Junaidi juga menambahkan, meski air sudah tidak jalan lagi, dirinya masih dikenai pungutan.

“Yang mungut ada, dari warga kampung ini dan nanti disetorkan ke bank. Mulai dipungut sekitar sebulan setelah beroperasi, sekitar setahun lalulah. Air jalannya cuma satu bulan, sampai saat ini tidak jalan. Sudah setengah tahun ini, kami ambil air di Pulau Tumbar. Kita sudah pernah menanyakan ke pihak RW, tetapi Pak RW hanya bilang oke-oke saja. Jadi bak air itu seperti dipajang saja. Iuran berjalan, air tidak dapat,” kata Junaidi.

Junaidi mengaku, kalau dirinya harus membeli air kepihak lain, untuk kebutuhan sehari-harinya.

“Kalau kita beli air, 1 drum sampai kerumah Rp 18.000. Kalau kita pergi beli sendiri, Rp 11.000. Kalau waktu masih jalan dulu, perbulannya dikenakan Rp 40.000 – Rp 60.000. Kalau untuk biaya bebannya, saya dikenakan Rp 15.000,” terang Junaidi.

Sementara itu, Lurah Pulau Terong, Kecamatan Belakang Padang, Batam, Zamri, ketika dikonfirmasi terkait hal tersebut, mengatakan kalau pihaknya akan mencari informasi terkait hal tersebut.

“Kalau informasi dari warga, ada yang dapat (air – red) ada yang tidak. Tapi (saya – red) belum dapat informasi. Nantilah saya coba cari informasi dulu, nanti baru saya bisa memberikan statemen,” kata Zamri kepada Selingga.com, pada Rabu (20/11) lalu.

Zamri juga membenarkan, kalau untuk kebutuhan air bersih, masyarakat mengambilnya di Pulau Tumbar.

“Iya, ngambilnya di Pulau Tumbar, ngambil di Teluk Kangkung,” kata Zamri. (Im).

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.