Samin Jasmir 'Veteran Tua' Yang Diajarkan Menembak Dengan Posisi Berguling

Lingga75 Views
banner 468x60

Selingga.com (22/08) Dabo. Samin Jasmar, sebuah nama yang melekat dari sosok laki-laki kelahiran tahun 1928 ini. Suami dari Permaisuri (77) itu diketahui merupakan veteran yang masih ada saat ini di Kabupaten Lingga. Mendampingi Srikandi PP Lingga pada Kamis (22/08) tadi, Selingga.com ikut mengunjungi tempat kediaman “mantan pejuang” ini di RT 02 RW 03, Jangkang, Jalan Batu Berdaun, Kampung Baru, Kabupaten Lingga.
Tidak lama menunggu, kami dipersilahkan memasuki tempat kediaman sederhana milik Samin Jasmar oleh istrinya. Di dalam rumah yang tidak begitu besar, tidak terlihat perabot atau aksesoris mahal di dalam ruangan tersebut. Satu set kursi tamu sederhana di atas lantai tak berkeramik menjadi satu-satunya pemandangan yang ada selain lemari tua dengan beberapa barang di dalam dan di atasnya. Beberapa foto juga melengkapi hiasan dinding rumah tersebut.

Sekitar 5 menit di ruang tamu, Samin Jasmar keluar dari salah satu kamar yang ada dengan dituntun oleh istrinya, Permaisuri. Setelah duduk sejenak, Maria Levi, Ketua Srikandi PP Lingga langsung menyalami dan memeluk sosok tua itu diikuti 2 orang dari Srikandi PP yang ikut hadir juga saat itu. Terlihat sorot mata tajam dari “sang Veteran” ini ketika Srikandi PP Lingga mengenalkan diri.
“Bapak kalau diajak bicara masalah perjuangan, semangatnya naik”, kata Mayulis (47), salah seorang anak Samin Jasmar, yang baru sampai di rumah.

“Kalau dengar sejarah, bapak tambah semangat, apalagi kalau dengar masalah baris-berbaris. Bapak pun disiplinnya masih tinggi. Kalau nyuruh ambil barang, lengkap dengan menerangkan di mana tempat barang tersebut. Anak-anaknya dididik disiplin dari kecil”, kata Mayulis, seakan memahami apa yang akan kami tanyakan prihal orangtuanya itu.
Mayulis sendiri saat ini sebenarnya tinggal di Garut, Jawa Barat. Namun karena kondisi kedua orangtuanya yang sudah sepuh, Mayulis meminta izin suaminya untuk menemani sementara kedua orang tuanya itu. Selain Mayulis, di Dabo masih ada satu anak laki-laki Samin Jasmir yang tinggal di kebun, sekitar daerah Batu Berdaun. Sesekali sering juga melihat keadaan kedua orang tuanya. Sedangkan 3 orang anak yang lainnya berada di Pekanbaru, Lampung, dan Lobam. Samin Jasmir memiliki 5 orang anak dengan 4 orang cicit.

Samin Yasmar, no 4 dari kanan (foto dari album keluarga)

Kepada Selingga.com, Samin Jasmir mengaku kalau memulai ikut latihan perang pertama kalinya di daerah Japura, Riau.
“Kami masuk latihan di Japura, Air Molek (Inhu, Riau-red). Sesudah itu, penyerahan kekuasaan Belanda kepada Indonesia pada 1949. Bapak ikut juga ke Air Molek. Waktu itu, kami tentara tidak boleh melihat (jumpa-red) tentara Belanda, cuma kepala-kepala saja yang teken (tanda tangan-red). Akhirnya saya ke sini (Dabo-red). Saya ke Dabo tahun 1950”, kata Samin Jasmir sambil mencoba memutar memori ingatannya ke masa puluh tahun silam.

Ketika ditanyakan kapan pertama kali ikut angkat senjata, lelaki dengan perawakan agak sedang ini menyebutkan Sungai Guntung, Inhil, Riau sebagai tempatnya.
“Pertama kali berjuang dengan senjata, setelah latihan, itu di Sungai Guntung, Kateman, Moro, Kuala Enok, termasuk Kuala Jambi. Itu kita jelajah semuanya”, terang Samin.
Samin Jasmir juga berusaha menerangkan bagaimana mereka dahulunya dididik untuk menembak dengan posisi berguling.
“Kita harus hati-hati, bagaimana saat kita menembak dengan posisi badan berguling-guling. Itu semua pemuda pilihan, dilatih dan dicek kesehatannya. Kalau kesehatannya tidak bagus, disuruh pulang”, kata “Veteran” Samin Jasmir ini sambil terus berusaha mengingat sejarah yang telah berlalu.
Sang Veteran, Samin Jasmir

Ketika disinggung apakah pernah ada perhatian dari pemerintah daerah, Samin mengaku kalau dirinya sering diundang, terutama dalam momen 17 Agustus.
“Ada perhatian dari pemerintah, dulu diundang pak bupati ke Daik, 17 Agustus-an tetap kita diundang. Tetapi sekarang sakit, tak bisa datang lagi (ke Daik-red). Saya ini kalau sehat, diundang ke Daik oleh bupati”, jawab Samin Jasmir kepada Selingga.com saat itu.
Namun ketika “sang Veteran” ini ditanyakan apa harapannya ke pihak-pihak terkait, dirinya memilih diam sesaat.
“Ya, harapan kita keluarga membutuhkan (bantuan-red). Tapi kemarin waktu 17 Agustus, ada bantuan dari ibu Camat Singkep dan bapak bupati. Danramil juga ada membantu”, jawab Samin Jasmir dengan intonasi sedikit pelan.
Sebenarnya banyak lagi daftar pertanyaan yang ingin kami ajukan saat itu. Namun mengingat faktor umur “sang Veteran”, kami memutuskan untuk menyudahi “perjalanan menelusuri sejarah” hari itu.
Kawan-kawan dari Srikandi PP Kabupaten Lingga pun terlihat menyiapkan diri untuk menyerahkan “buah tangan” yang telah disiapkan sebelum pergi bersilaturahmi ke rumah sang pejuang itu. Beberapa bingkisan pun sudah terlihat di atas meja ruang tamu tak berkeramik itu.
“Kami dari Srikandi Pemuda Pancasila mengunjungi Bapak Samin Jasmar, pejuang, Veteran Angkatan 45 ini, sekaligus menyerahkan buah tangan untuk bapak kami ini sebagai tanda kasih dan sayang kami, peduli kami kepada beliau karena beliau telah membela negara”, kata Maria Levi.
Sampai di sini, Maria Levi masih bisa terlihat seperti sebelumnya, masih lancar berkomunikasi dengan Samin Jasmar. Namun keharuan tidak dapat dibendung ketika Ketua Srikandi PP Kabupaten Lingga itu menyambung kalimatnya.
“Yang kami berikan ini belum seberapa, dibandingkan dengan tenaga dan darah. Luar biasa sekali. Kami pemuda, belum tentu bisa seperti beliau”, kata Maria Levi dengan intonasi sedikit rendah dan terdengar ada nada keharuan saat menyampaikan kalimat tersebut.
Namun Maria Levi mampu menyelesaikan kalimatnya. Ketua Srikandi PP Lingga ini juga menyempatkan diri mengajak untuk bersama-sama buat menjaga Pancasila.
“Tapi, Insyya Allah untuk ke depannya, kami akan menjaga negara ini, akan membantu masyarakat, teman-teman yang ada. Di sini, kita bangun negara kita. Cuma saran saya, jaga Pancasila, Jaya Indonesia. Perempuan bisa, itu yang kita tanamkan”, kata Maria Levi.(Im).

banner 325x300
Baca juga :   Berkunjung ke Desa Kote, Nizar Meminta Sungai di Normalisasi  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *